Bantahan atas klaim "Al Bukhari meyakini Allah berada di langit"


Para salafi sering mengutip  dari kitab Imam Bukhari untuk menyebarkan aqidah mereka. Mengingat banyaknya tuduhan  fitnah salafi terhadap  Ibnu Kullab  [rh], saya menemukan kutipan yang relevan dari al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani tentang hubungan Ibnu kulab dengan Al bukhari" dalam Fathul bari 1/323:  
مع أن ما البخاري في جميع يورده من تفسير الغريب إنما ينقله عن أهل الفن 
كأبي عبيدة والنضر بن شميل والفراء وغيرهم, وأما المباحث الفقهية 
له من فغالبها مستمدة الشافعي وأبي عبيد وأمثالهما, وأما المسائل 
الكلامية فأكثرها من الكرابيسي وابن كلاب ونحوهما. اه

terjemahan : di sertai bahwa al-Bukhari dalam semua yang di sampaikannya dalam tafsir al gorib, sungguh ia menuqilnya dari spesialis dalam subjeknya seperti Abu 'Ubaid, anNadr bin Shamil, al-Faraa dan lain-lain. Dan dalam hal fiqh, ia mengambil sebagian besar bersandarkan kaidah dari Imam-Syafi'i, Abu 'Ubaid dan semisalnya. Dan dalam masalah masalah ilmu Kalam, sebagian besar ia mengambil dari al-Karabisi, Ibnu Kullab dan semisalnya [Al-Fath al-Bari : 1 halaman 323] 



Berikut ini adalah beberapa kutipan dari  kitab  kholqu af"al al ibad karya Imam Albukhari yg di jadikan sandaran oleh salafi utk menyerang ahlussunnah al asy"ariyah:

  • 1. Wahab bin Jarir berkata:  kaum Jahmiyyah Zindeeq meyakini bahwa Allah tidak  Istiwaa di  atas arasnya.. 
  • 2. Hammaad bin Zaid berkata: Al Qur'an adalah  kalam Allah, yang dibawa  oleh Jibril. Mereka [yaitu Jahmiyyah]  tdk berdebat kecuali membantah bahwa Allah ada  di langit 
  • 3. Khalq mengatakan: Ibn al-Mubarak mengatakan: Kami tidak mengatakan seperti perkataan  Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah di bumi, tapi kita mengatakan bahwa Allah istawa di atas aras Nya  , Ibnu al-Mubarak juga  di tanya: Bagaimana  kalian tahu Tuhan  kami ? Dia menjawab:  Ia berada di atas langit-Nya  di atas Arsy-Nya. 
  • 4. Saeed bin Aamir berkata: Jahmiyyah memiliki  keyaqinan yg lebih buruk daripada orang Yahudi dan Kristen. Orang Yahudi dan Kristen dan juga semua Umat Agama  sepakat bahwa Allah ada di Arsy, tetapi Jahmiyyah berkata: "Tidak ada sesuatu ". 
  • 5. Ali [bin al-Hasan  ], mengatakan: Waspadalah terhadap al-Marreesi dan kelompoknya - perkataaan mereka penuh dgn Zandaqah. Saya berbicara dengan guru mereka, Jahm, dan dia tidak menegaskan kepada saya bahwa  Allah ada di  langit 
  • 6. Fudhayl ​​bin Iyadh berkata: Jika Jahmi mengatakan kepada Anda " Aku ingkar terhadap  Tuhan yang  hilang dari tempat-Nya", maka katakan kepadanya: "Aku percaya pada Tuhan yang melakukan apa yang Ia kehendaki". 
  • 7: Yazid bin Harun memperingatkan terhadap kesesatan Jahmiyyah dan berkata: Barangsiapa  menganggap  bahwa Ar Rahman  Istiwaa di atas arasNya dengan cara yg berbeda dgn apa yg dipahami oleh Aammah[umum], maka ia adalah seorang Jahmi. 
  • 8. Dhamurah bin Rabee'ah meriwayatkan dari Shadaqah ,beliau mendengar Sulaiman al-Taymi berkata: Jika saya ditanya:?di  MANA  ALLAH,maka  saya akan mengatakan: DI  langit . jika penanya bertanya: MANA   arasNyaNya SEBELUM   MENCIPTAKAN LANGIT?? saya akan  BERKata :  di atas AIR, jika penanya bertanya:? di MANA  arasNya SEBELUM   Diciptakan AIR, saya akan BERKata  : AKU TIDAK TAHU. 
  • 9. Muhammad bin Yusuf mengatakan: Barangsiapa mengatakan bahwa Allah tidak di Arsy, maka ia adalah kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa, ia adalah kafir. 
  • 10. Ibnu Abbas berkata: Ketika Allah berbicara kepada Musa,  berkataNya itu [dilakukan] di atas langit: Allah di atas langit. 
 Para  Ḥashwiyyah mengumpulkan kutipan  dari ulama Salaf  juga dari   Imam al-Bukhari bahwa mereka  berkeyakinan  Allah berada dalam arah  dan duduk di singgasanaNya.  sebenarnya beberapa  pernyataan dari salaf  yang seolah dohirnya menyatakan sbgmn di atas,itu hanya utk merespon terhadap sekte Jahmiyyah yang percaya bahwa Allah berada di setiap tempat dan  campur dgn ciptaanNya / maka setiap perkataan ulama sbgmn telah dikemukakan oleh salafi  tsbt yg di jadikan bukti bahwa Allah ada  pada arah dan terbatas  dgn tempat tertentu juga duduk di atas  arasy itu untuk mendukung keyakinan palsu mereka sendiri. Padahal kenyataannya  kutipan  dari ulama Salaf seperti itu hanya utk menegaskan bahwa Allah tidak  menempat dalam  ciptaan, bukan bagian dari atau campur dengan ciptaanNya ,maka di aras atau di tempat lain atau di setiap tempat,itu sama menempat dalam  ciptaan dan mustahil bagi Allah .
Imam al-Baihaqi dalam Asma 'wal -Sifat ( tahqiq Al Kawthari hal 396-397 ) menguraikan:Makna yangdi yakini oleh kaum Muslim  dari istawa  di atas Arsy"bukan berarti bersentuhan  dengan arasNya, atau   menempat  (mutamakkin FIH), atau  terbatas   (mutahayyiz)  dgn  salah satu arah (jihaat).  Dia adalah terpisah (ba'in) dari semua ciptaan-Nya. Itu hanyalah sebuah ayat dalam Al quran  sehingga kita mengatakan itu di sertai dgn menafikan setiap modalitas ( kaif) untuk  istawa ,   karena  Tidak ada apapun yang serupa dengan Dia, dan Dia adalah Maha Mendengar  dan maha Melihat}
Imam Al-Baihaqi juga mengatakan lebih  dari itu  dalam Asma 'wal -Sifat (hal. 426-427  )
Dari 'Ali bin al-Hasan bin Shaqiq: "Aku mendengar` AbdAllah ibn al-Mubarak mengatakan,'  Tuhan Kami   di atas (fawq) tujuh langit, {Dia istawa di atas Arsy-Nya},  terpisah  (ba'in ) dari   ciptaan-Nya, dan kita tidak mengatakan sebagaimana  perkataan Jahmiyya bahwa Dia ada di sini '- dan ia menunjuk ke tanah (hahuna fil-ardh) ". al baihaqi berkata "Dan istilah "terpisah  (ba'in )  " itu   untuk meniadakan klaim para Jahmiyyah; * bukan untuk menisbatkan arah  yang berlawanan kepada Allah tetapi  maksudnya adalah tinggi secara absolut.
 berikut adalah beberapa komentar atas semua  kutipan  yang di nuqilkan dari kitab  kholqu af"al al ibad karya Imam Albukhari :
Kutipan
1. Wahab bin Jarir berkata:
   [قال وهب بن جرير: "الجهمية الزنادقة إنما يريدون أنه ليس على العرش إستوى "]
 :kaum Jahmiyyah Zindeeq meyakini bahwa Allah tidak  Istiwaa di  atas arasnya.. 
Jawabannya: Ya itu benar! Karena Jahmiyya meniadakan ayat: " Ar rahman istiwa 'di atas  arasyNya" .. Mereka mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala ada di mana-mana dan tidak  bisa terpisah dari ciptaan-Nya, Pernyataan Imam Wahab b. Jarir  hanya dalam rangka menetapkan ayat istawa yang jelas ada  pada Al Qur'an dan sebagai sanggahan terhadap  yang mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala  menempat dan ada di mana-mana dan  juga  pernyataan itu hanya menetapkan terpisahnya Allah   dari ciptaan-Nya   bukan menetapkan tempat atau arah pada Allah .
Kutipan
2. Hammaad bin Zaid berkata: Al Qur'an adalah  kalam Allah, yang dibawa  oleh Jibril. Mereka [yaitu Jahmiyyah]  tdk berdebat kecuali membantah bahwa Allah ada  di langit
  [قال حماد بن زيد: "القرآن كلام الله نزل به جبرائيل, ما ليس أنه يجادلون إلا في السماء إله "]


Jawabannya: Ya, Al-Qur'an adalah  kalam Allah  Subhanahu wa Ta'ala dan tidak diciptakan .  pendapat Jahmiyyah :"Al-Qur'an itu diciptakan". Ingat...!  kata "Al-Qur'an" itu  memiliki dua makna: Yang pertama maknanya adalah  sifat KALAM Allah  yang  QODIM , sedangkan yang kedua  maknanya adalah KITAB Al-Qur'an yang berupa   bahasa Arab   yg di tunjukan dgn   huruf-  contoh makna kedua ini  seperti seseorang mengatakan, "tolong  ambilkan Al-Qur'an di rak" . adapun ucapan  Salaf: "Al-Qur'an tidak diciptakan,"  maka  jelas  dgn makna yg pertama. Dan keyakinan bahwa al quran (SIFAT KALAM) ITU mahluq seperti keyakinan orang jahmiyah bahwa Allah diam lalu berkata dan diam lg dst,itu akan  mengarah kepada keyakinan bahwa  pada dzat Allah pembaharuan peristiwa  dan  menetapkan Allah bisa berubah, Kepercayaan  seperti itu di sertai  adanya keyakinan bahwa Allah qodim,itu merupakan dua hal yg kontradiksi...!! dan sama dgn  ateisme. siapa pun menganggap bahwa peristiwa penbaharuan dan perubahan dapat terjadi dalam sifat Allah, padahal Allah adalah  Al Awwal [yg maha awal]  sebagaimana pendapat Ibn Taymiyyah dan Jahm b  Safwan yg mengatakan bahwa tidak setiap perubahan peristiwa yang terjadi dalam entitas  dapat menjadi  sebuah bukti  bahwa entitas itu ada permulaan dan  diciptakan,  sehingga tdk tidak ada bukti  bahwa dunia  ini ada permulaan dan diciptakan.  maka Ibn Taymiyyah al -Harrani - meyakini bahwa al alam qodim (sifat) dunia adalah abadi, dan keyakinan atas keabadian dunia berdampak bahwa  alam tdk perlu pencipta, dan itu merupakan penolakan kpd pencipta atau pengingkaran Tuhan.Dengan demikian, perkataan Hammad b. Zaid itu benar, karena pernyataan bahwa "Al-Qur'an diciptakan" mengarah kepada penolakan mutlak dari adanya Allah. Dan pernyataan jahmiyah bahwa Allah  tdk di   atas langit ,maksud mereka adalah meniadakan ayat " 
" ءأمنتم من في ٱلسمآء بكم أن يخسف فإذا هي ٱلأرض تمور 67 : 17
dan as"ariyah tdk meniadakan ayat tsbt tp kmbali kepada konsep pemahaman tntg ayat mutasyabihat
Kutipan
3. Khalq mengatakan: Ibn al-Mubarak  berkata :.
[قال ابن المبارك: "لا نقول كما قالت الجهمية إنه في الأرض ههنا, بل على العرش استوى" وقيل له: كيف تعرف ربنا? قال: "فوق سماواته على عرشه"]

:Kami tidak mengatakan seperti perkataan Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah di bumi, tapi kita mengatakan bahwa Allah istawa di atas aras Nya Ibnu al-Mubarak juga di tanya: Bagaimana kalian tahu Tuhan kami ? Dia menjawab: Ia berada di atas langit-Nya di atas Arsy-Nya.



Jawaban: Ya, kami mensifati Allah dengan apa pun yang telah di sipati utk diriNya dan Dia istawa ala arsyi, Oleh karena itu kami tidak mengatakan sbgmn perkataan Jahmiyah bahwa Allah ada di setiap tempat [والعياذ بالله] melainkan Dia ada tanpa tempat, kami tahu ini dari teks-teks yang jelas [muhkam] ,ucapan ibnu almubarok itu tidak lain hanya utk menetapkan nas yg ada di dalam Kitab dan Sunnah dgn tanpa takwil dan tanpa menetapkan makna dohir yg hissi . Sebaliknya beliau menetapkan apa yg datang dari nas dan diam dgn menyerahkan maksudnya kepada Allah sbgmn cara salaf dalam makna (tafwid). sebagaimana Imam Al-Baihaqi mengatakan dalam Asma 'wal -Sifat (hal. 426-427)

Dari 'Ali bin al-Hasan bin Shaqiq: "Aku mendengar` AbdAllah ibn al-Mubarak mengatakan,'  Tuhan Kami   di atas (fawq) tujuh langit, {Dia istawa di atas Arsy-Nya},  terpisah  (ba'in ) dari   ciptaan-Nya, dan kita tidak mengatakan sebagaimana  perkataan Jahmiyya bahwa Dia ada di sini '- dan ia menunjuk ke tanah (hahuna fil-ardh) ". al baihaqi berkata "Dan istilah "terpisah  (ba'in )  " itu   untuk meniadakan klaim para Jahmiyyah; * bukan untuk menisbatkan arah  yang berlawanan kepada Allah tetapi  maksudnya adalah tinggi secara absolut. 

[Dari  ktb Ihya al-Qawa`id wa al-aqa'id   Imam al-Ghazali 'berkata : " Allah berada di atas Arsy, di atas langit, di atas segalanya , dengan keMuliaan  dan tidak  menjadikan  Dia lebih dekat ke  arasy atau langitnya  dan tidak membuat Dia lebih jauh dari Bumi ". ]
Kutipan
4. Saeed bin Aamir berkata:
 - [- قال سعيد بن عامر: "الجهمية أشر قولا من اليهود والنصارى, قد اجتمعت اليهود والنصارى أن الله وأهل الأديان تبارك وتعالى على العرش , وقالوا هم: ليس على شيء "]
Jahmiyyah memiliki  keyaqinan yg lebih buruk daripada orang Yahudi dan Kristen. Orang Yahudi dan Kristen dan juga semua Umat Agama  sepakat bahwa Allah ada di Arsy, tetapi Jahmiyyah berkata: "Tidak ada sesuatu ".
Jawaban: Ya betul, karena jahmiyah mendustakan ayat dalam Al Qur'an dgn berkata  Allah tidak di atas  aras tetapi Allah ada di setiap tempat dan campur dgn ciptaannya, amit-amit....!! Mereka tidak menerima  ayat istawa tsbt dgn konsep tafwid makna yang tepat  kepada Allah, karena akal kaum jahmiyah dalam kebingungan dan tidak mampu memahami bahwa Allah  ada tanpa tempat dan arah dan ada di luar ruang dan waktu dan jg tdk tercapai oleh indra ,Maka dia tidak  mampu  berkata kecuali :"Tuhan adalah udara ini dan ada di mana-mana", ini adalah pandangan Jahamiyya,  jadi mereka tdk menerima  ayat istiwa    dgn di sertai tanzih  [mansucikan ] Allah dari arah dan bentuk.
Kutipan
5. Ali [bin al-Hasan]  mengatakan: 
5 - [قال علي: "من إحذر المريسي وأصحابه فإن كلامهم يستجلي الزندقة وأنا كلمت أستاذهم جهما فلم يثبت لي أن في السماء إلها "]
Waspadalah terhadap al-Marreesi dan kelompoknya - perkataaan mereka penuh dgn Zandaqah. Saya berbicara dengan guru mereka, Jahm, dan dia tidak menegaskan kepada saya bahwa  Allah ada di  langit 
Jawaban: Ini  sebagaimana penjelasan sebelumnya . . bahwa Kepercayaan dari Jahmiyah adalah ( Allah  menyatu dgn ciptaan-Nya)  dan ini penyimpangan mutlak,  Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan tentang  dzatnya:"Apakah kalian merasa aman dgn yg di langit "  [67:17]  dgn mengikuti sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas tntg ayat itu, sbgmn telah disebutkan dalam Zad al-Maisir karya  Ibn al-Jauzi. Tetapi Jahmiyah tidak menerima akan apa yg datang dlm Al Qur'an dgn menyerahkan arti yang tepat yg dimaksudkan  pada ayat itu kepada Allah . .... Pada  poin ini  sebaiknya juga melihat tafsir  ayat tersebut 'dalam tafsirnya  Imam al-Qurtubi   . 
Mengenai Sabda Nabi yang  ada dalam Kitab Tauhid dari ktb Sahih al-Bukhari , bab 22, dan  dalam bab 55: Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari  : Ketika kita mengatakan: "Allah berada di atas Arsy" ( Allah `ala al-` arsy ) , itu  bukan berarti  menyentuh atau  menempat di atas arasnya atau dibatasi oleh sisi tertentu dari ArsyNya. Sebaliknya, itu adalah  adalah nas mutasyabihat sehingga kita mengimaninya  dgn  meniadakan modalitas [kaif] apapun, karena Dia tidak  serupa  dgn apapun.   
kutipan 
6. Fudhayl ​​bin Iyadh berkata:  
 [قال الفضيل بن عياض: "إذا قال أنا لك الجهمي أكفر برب يزول عن مكانه, فقل: انا أؤمن برب يفعل ما يشاء "]
 Jika Jahmi mengatakan kepada Anda " Aku ingkar terhadap  Tuhan yang  hilang/berpindah dari tempat-Nya", maka katakan kepadanya: "Aku percaya pada Tuhan yang melakukan apa yang Ia kehendaki". 





Jawaban: Ada beberapa poin yang perlu di perhatikan di sini kepercayaan Jahmi yaitu menetapkkan tempat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Allah menyatu dgn tempat tsbt karena Allah ada dimana-mana, malah menurutnya Allah adalah tempat itu sendiri! Ini jelas berbeda dengan pendapat Mu'tazilah ,apalagi dgn Ahl al-Sunnah sbgmn sudah kita ketahui bahwa Allah tdk menempat. maka kaum As 'ariyah tdk dimaksudkan dalam atsar fudail bin iyadl di atas, karena sejak awal as"ariyah meniadakan tempat bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam segala hal. maka al-Fudayl bin Iyad membantah jahmiyah dengan jawaban bahwa allah melakukan sekehendaknya (Sifat al-fi'l) dan tindakan Allah berkaitan dgn Iradah [kehendak] Nya", dan irodahNya berhubungan dgn penentuan trhadap segala sesuatu yang mungkin [mahluq] maka tindakannya terjadi bukan utk dzat Allah Subhanahu wa ta'ala tetapi tindakan utk mencipta. 



Kutipan
7: Yazid bin Harun memperingatkan terhadap kesesatan Jahmiyyah dan berkata: Barangsiapa  menganggap  bahwa Ar Rahman  Istiwaa di atas arasNya dengan cara yg berbeda dgn apa yg dipahami oleh Aammah[umum], maka ia adalah seorang Jahmi
Jawaban: sebagaimana telah di sebutkan bahwa jahmiyah meyakini bahwa Allah ada di setiap tempat, maka memunculkan  ayat Ar rohman alal arsyistawa dengan femahaman yg berbeda dgn apa yg di pahami oleh umum dari tabiin dan keumuman salaf,maka ia adalah jahmi, kata amah [umum] di sini maksudnya keumuman ahli ilmu sbgmn dalam istilah mereka ,bukun umumdalam arti orang awam,karena ucapan orang awam tdk bisa di jadikan sandaran,maka oleh sebab itu,tdklah jauh pernyataan yazid ibn mubarok tsbt dalam memperingatkan jahmiyah.
Kutipan
8. Dhamurah bin Rabee'ah meriwayatkan dari Shadaqah ,beliau mendengar Sulaiman al-Taymi berkata:Jika saya ditanya:?di  MANA  ALLAH,maka  saya akan mengatakan: DI  langit. jika penanya bertanya:di MANA   arasNya  SEBELUM   MENCIPTAKAN LANGIT?? saya akan  BERKata :  di atas AIR.  jika penanya bertanya:? di MANA  arasNya SEBELUM   Diciptakan AIR, saya akan BERKata  : AKU TIDAK TAHU. 
Jawaban: betul...ketika di tanya, kita jawab "fis sama" karena nas datang dgn lafad itu seperti dalam hadits jariyah,akan tetapi maksudnya adalah tinggi status bukan menetap dan menempat,aras adalah tanda kekuasaanNya,dan sebelum ada langit,arasnya di atas air sebagaimana datang dalam nas,dan sblm ada air,saya tdk tau karena tdk ada nas
Kutipan
9. Muhammad bin Yusuf mengatakan: Barangsiapa mengatakan bahwa Allah tidak di Arsy, maka ia adalah kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa Allah tidak berbicara kepada Musa, ia adalah kafir. 
Jawaban:betul karena Allah swt berfirman Ar rohman alal arsyistawa dan wa kallamallohu musa taklima...maka barangsiapa mengingkari ayat istawa dan kalam Allah terhadap Musa as maka dia inkar dan mendustakan kitab Allah
Kutipan
10. Ibnu Abbas berkata: Ketika Allah berbicara kepada Musa,  berkataNya itu [dilakukan] di atas langit: Allah di atas langit. 

Jawaban: jawabannya pakai bahasa arab z y...he ini kan poin terakhir..!! neh jawabannya:

-الجواب : سبق الجواب على مثله بما يغني عن الاعادة ، وفيه أن الله ناجى موسى عليه السلام وقربه نجيا دون قرب حسي أو مخالطة مصداقا لما ورد عنه صلى الله عليه وسلم أنه قد كذب من زعم أنه كان أقرب إلى الله حين أسري به وعرج به إلى السماء من يونس بن متي وهو في بطن الحوت الكامن في أعماق إذ ليس ثمة مكان لله سبحانه وتعالى ليكون أقرب من شخص في مكان منه بالنسبة لشخص آخر في مكان آخر .



inilah kesimpulan aqidah kaum jahmiyah :
------------------------------------------------------------------------  
 ! نفي صفات الله مطلقا -

 قول بأن الله لا يوصف بما يمكن أن يوصف به المخلوق ، فلا يصح عنده أن يقال الله عالم أو حي أو قادر ولكن يقال  له خالق ورازق ومميت ومحيي

  ! القول بالوحدة والحلول وأن الله في كل مكان -

 القول بعدم امتناع الحوادث عليه سبحانه وأن علمه يتجدد وأنه سبحانه وتعالى يتكلم -
إذا شاء ويسكت إذا شاء 

!   القول بخلق القرآن -

!  القول بالجبر المطلق وأن لا قدرة حادثة للعبد ولا استطاعة -

!   القول بفناء الجنة والنار وفناء من فيهما -

kesimpulan tersebut tedapat dalam kitab al milal wan nihal karya as sahrostani dan juga terdapat dalam muqodimah kitab tauhid dari soheh imam al bukhari dalam kitab syarahnya yaitu fathul bari karya Ibnu Hajar 
wallohu a"lam bis shawab.....!
0 komentar:

Poskan Komentar

Random Aswaja News

Total Tayangan Laman